Berikut adalah bedah kritis mengenai siapa saja aktor dan kepentingan yang biasanya bermain di balik layar perubahan kurikulum yang terus berulang:
1. Rezim Politik: “Ganti Menteri, Ganti Kebijakan”
-
Politisasi Pendidikan: Kurikulum adalah alat tercepat untuk menanamkan nilai-nilai atau ideologi tertentu yang sejalan dengan visi politik penguasa saat itu.
2. Industri Penerbitan: Ladang Bisnis Buku Teks
Perubahan kurikulum adalah “durian runtuh” bagi industri penerbitan. Setiap kali nama mata pelajaran atau urutan materi berubah, jutaan buku cetak lama menjadi sampah dan tidak lagi laku.
-
Modul dan Pelatihan Berbayar: Perubahan istilah menciptakan kebutuhan akan modul-modul pelatihan baru bagi guru, yang lagi-lagi menjadi pasar bisnis bagi lembaga-lembaga pelatihan swasta.
Alur Kepentingan di Balik Perubahan Kurikulum
3. Lembaga Donor Internasional dan Standar Global
Pemerintah sering kali mendapatkan bantuan dana atau pendampingan teknis dari lembaga internasional (seperti Bank Dunia, IMF, atau OECD).
-
Skor PISA sebagai Berhala: Tekanan untuk meningkatkan peringkat Indonesia di ajang PISA (literasi dan numerasi) memaksa kurikulum dirombak agar selaras dengan apa yang diuji secara global, terkadang dengan mengabaikan konteks kearifan lokal.
-
Adaptasi “Copy-Paste”: Mengambil model pendidikan dari negara maju (seperti Finlandia atau Singapura) dan menerapkannya secara paksa tanpa melihat kesiapan infrastruktur dan kualitas guru di daerah terpencil.
4. Sindikat Proyek Pelatihan dan Sertifikasi
Setiap perubahan kurikulum pasti diikuti oleh program sosialisasi dan pelatihan massal.
-
Anggaran Sosialisasi: Pelatihan guru di berbagai hotel, pembuatan aplikasi baru, hingga pengadaan sertifikat pelatihan adalah “proyek basah” bagi oknum birokrasi dan vendor mitra.
-
Istilah Baru sebagai Proyek: Mengubah “Silabus” menjadi “Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)” mungkin secara substansi mirip, namun secara administratif memerlukan revisi ribuan dokumen yang berarti ada anggaran yang harus dicairkan untuk “penyesuaian” tersebut.
5. Dampak: Guru sebagai Korban Eksperimen
Akibat dari “Kurikulum Titipan” ini, guru tidak lagi fokus pada substansi mengajar, melainkan pada:
-
Kelelahan Semantik: Guru dipaksa menghafal istilah-istilah baru setiap tahun yang sebenarnya hanya baju baru bagi konsep lama.
-
Kehilangan Fokus: Alih-alih mendalami materi, guru sibuk melakukan update administrasi agar sesuai dengan format terbaru yang diminta oleh pengawas atau aplikasi kementerian.
-
Krisis Integritas: Karena perubahan yang terlalu cepat, banyak guru yang akhirnya hanya “copy-paste” perangkat ajar dari internet tanpa memahaminya, demi menggugurkan kewajiban administratif.
Kesimpulan
Perubahan kurikulum yang ideal seharusnya lahir dari evaluasi jujur dari bawah (guru dan siswa), bukan titipan kepentingan dari atas. Selama kurikulum masih menjadi komoditas bisnis dan alat politik, maka pendidikan kita akan terus berputar dalam lingkaran formalitas nama tanpa pernah menyentuh kualitas isi.
Menurut Anda, apakah perubahan kurikulum kita saat ini memang benar-benar menjawab tantangan zaman (seperti AI dan digitalisasi), ataukah hanya sekadar “proyek tahunan” yang dibungkus dengan jargon-jargon modern?